Kamis, 22 Oktober 2015

Catatan seorang sahabat untuk ayahnya

Ayah 
Rasa ingin ku keruk kembali timbunan itu.
Lalu menarik kembali nissan nama setiap lukaku.
Biarlah nafasku menggenggam tanganmu.
Syair-syair buram menimangku.
.
Sajak berlinang merangkulku.
Lalu melabuhkan tiap duka disekitar gelap.
Seolah kau utus orkestra alam tuk memejamkan lelahku.
symfony tentang kerinduan, Kau titipkan restumu pada dingin malam menyeruak.
.
Kalimat-kalimat penghapus lembab ratapnya.
Tiap dendang lagu macapat mengiring pilu.
Lalu nyanyian hati yang sampai padaku.
Bahkan petikan gitar berbeda di anganku.
.
Aku tahu meski,
Deras darah memeras daya. 
Keras tak salah, memeras segala upaya.
Denyut menghanyut kelaraan.
Sakit merakit kebenaran, Kau tetap kan berdiri demi kami.
.
Tak mampu ku perlambat laju sang waktu.
Gema takbir malam ini tepat kau berusia 55.
Tidak berupa mobil atau rumah mewah bak di negeri dongeng.
Tidak pula sebuah puisi yang ditulis dengan pena penuh rasa dan haru.
.
Disetiap sepertiga malamku aku berdoa agar tuhan mengirimkan malaikatnya.
Untuk menjaga pada tiap langkah bahkan detak jantungmu.
Karena aku terlalu lemah untuk selalu menjagamu seutuhnya.
Meskipun aku berusaha sekuat apapun.
.
Maafkan anakmu jika aku tak mampu menjadi jagoanmu.
Yang selalu kau impikan dan harapkan.
Dan tak mampu memberikan apa yang kau inginkan.
Hanya goresan ini kukirim menembus langit ke 7.
.
Doaku telah sampai ke langit.
Tulus dan segan yang mengikis melahirkan syair bak pujangga.
Ini untukmu, dan doa sebagai bhaktiku. 
Dari anakmu yang yang tak pernah tumbuh dewasa dipelukmu, Ayah.
.
Selamat ulang tahun ayah ... -23 september 2015-


By: Antrasa Ainunnauval Iskandar

when my daughter will be married

Hahaha tak tau kenapa tiba tiba ingin menulis tentang hal ini setelah melihat video superman return di you tube. Menikah adalah sebuah ahir dalam pencarian pasangan yang diharapkan dan selalu disemogakan mampu menerima pasangannya dalam segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. Sekaligus menjadi langkah awal sebuah tahapan kehidupan baru yang meiliki tanggung jawab dan beban moril lebih tinggi.

Menikah adalah impian semua orang, terutama wanita. Banyak sekali teman teman se SMA saya yang sudah menjalankan tahap kehidupan ini, teman teman SMP dan juga teman teman semasa SD. Menikah dengan orang yang dicintai, mengikat dalam sumpah suci ijab dan Kabul dan memulai segalanya bersama dari awal. Siapa yang tidak menginginkan itu.

Kamis, 02 Juli 2015

Mencari Jalan Pulang

Sekarang saya sedang terdampar di kota orang, mencari sesuap nasi di kota pahlawan dan nunut jadi anaknya bu Risma hehehee. Untuk sementara dan belum tau akan berapa lama saya sekarang menjadi penghuni salah satu kamar di jl wonorejo I no 49.

Layaknya orang yang belum mengenal area sekitar termasuk rute rute kendaraan umum, sewaktu dalam perjalanan ke Tandes ini saya sempat bertanya ke pak Iskandar (Manajer pada perusahaan tempat saya bekerja), bertanya tentang rute transportasi untuk sampai kembali di Terminal Bungurasih atau Terminal Purabaya.

“ Kamu naik line yang warnanya kaya gitu ( nunjuk salah satu line saat berpapasan) turun di joyoboyo, dari sana kamu naik  lagi yang kearah terminal” kata pak Is sambil mengemudi.

Cerita di gang kecil Jl Wonorejo I No 46 Manukan

Dari Gang kecil ini saya melihat sesuatu. Ketika kembali dari mencari makan untuk berbuka, yang sudah tidak bisa di katakan buka puasa lagi karena jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Seperti biasa saya berjalan sendiri dan melewati beberapa orang yang sedang melakukan aktifitas mereka. Di deretak kos pertama, saya melihat beberapa orang yang sedang melakukan aktifitas berbeda, seorang mendorong motor, seorang megamatinya, seorang lagi sedang sedang menelepon entah siapa di sebrang sana. Karena itu bukan urusan saya, saya hanya melalui mereka dan berusaha menyapa sekenanya karena tidak mau di anggap sok akrab. Ditempat baru ini memang saya terkesan lebih pendiam dan mengurangi sosialisasi bukan karena sombong saya hanya sedang berusaha mengenal lingkungan baru saya dengan cara menjadi seorang pengamat terlebih dulu.

Jumat, 26 Juni 2015

Adaptasi Lidah

adaptasi lidah ??
adaptasi lidah adalah sebuah kondisi dimana lidah harus menyesuaikan dengan cita rasa daerah setempat (menurut saya).
jika mengunjungi sebuah kota, selain tempat wisata menu kuliner salah satu yang menjadi pilihan saya. berburu kuliner di kota orang menjadi menarik karena kita akan mencari dan berburu makanan makanan yang menjadi ciri khas daerah tersebut.

nah loh kalo ini bukan berburu kuliner, namun lebih pada lidah harus menyesuaikan dengan iklim makanan setempat.
karena tinggal di kota baru, mau tidak mau saya juga menyesuaikan dengan makanan setempat. Di surabaya tepatnya tandes, saya masih kesusahan menemukan makanan yang sesuai dengan lidah saya. Terbiasa dengan berbagai makanan yang memiliki citarasa pedas, lah kok neg kene sitik (lah kok di sini sedikit).


Jumat, 19 Juni 2015

Trend Mendaki Gunung

Saat mendaki gunung merapi kemarin tanggal 3 mei 2015, perasaan dan pikiran saya mengotak atik tentang fenomena mendaki gunung yang sedang marak di  kalangan masyarakat saat ini. Bukan lagi sekedar penggiat alam namun hampir semua elemen masyarakat mulai menjamahi dunia mendaki gunung.

Ingatan ku masih melekat pada 4 tahun yang lalu, ketika mendaki gunung di anggap sebagai sebuah kegiatan yang sia sia semata, kegiatak konyol yang memakan resiko besar. Dan saat dimana saya di anggap aneh oleh beberapa teman saya karena melakukan kegiatan tersebut.

"Buat apa naik gunung ?,
memangnya di atas sana ngapain aja ?,
bawa barang barang banyak hanya sekedar pindah tidur saja
bener bener kurang kerjaan"