Senin, 19 November 2012

Gua Seplawan

Gua terahir kami di Purworejo, sekaligus menjadi penutup ekspedisi spesialisasi caving kami. Gua ini merupakan gua wisata yang terkenal di Purworejo, pernah ditemukan sebuah arca bersejarah disini. Sebenarnya gua ini merupakan gua vertical, akan tetapi mulut gua telah di bangun tangga untuk akses wisatawan. Jarak antara mulut gua dengan rumah mbah Cokro berkisar 10 menit.

Target utama kami kali ini adalah belajar maping. Tim terdiri dari aku sebagai leader, Budi sebagai pembidik, Bayu sebagai pencatat dan Erwin sebagai sweeper. Kami di temani 4 senior kami yaitu kepala Suku WAPALHI Gombloh, Kepala pendidikan dasar Rizky Novan, Kadiv Caving Rizky Ardiyanto dan korbit 1 Bletog. Mbah Cokro menemani kami sampai di mulut gua, karena sudah larut maka Andi yaitu senior kami mengantarkan mbah Cokro kembai ke rumah.

Eksplor kami mulai pukul 9 malam, hujan turun deras mala ini. Salah satu keunggulan caving adalah tidak terbatas  oleh waktu dan cuaca hehee. Setelah 1 jam melakukan maping, hasrat untuk eksplor kami tergugah. Coro corone gak marem yen urung mentog (belum puas kalo belum kepentok).


Gua Seplawan indah banget, sempat terbayang di kepalaku andai saja gua ini tidak di jadikan gua wisata, pasti ornamen ornamen di dalamnya akan terjaga. Kecewa dengan tangan tangan usil wisatawan yang melempari dinding gua dengan lumpur atau  bahkan mengukir nama mereka di dinding, ini membuat ku jadi tahu kalau ada manusia yang bernama Rini pernah memasuki gua ini.
            
 Kami mencoba masuk ke bagian yang lebih dalam di gua ini, kalo boleh di gambarkan gua Seplawan ini seperti labirin raksasa, terdapat aliran air di dalamnya. Kami melewati batas tanda untuk wisatawan, memasuki setiap celah, dan memanjat dinding gua. Ruang ruang yang tidak terjamah manusia lebih indah. Kami menemukan mutiara gua di dalamnya. Kepuasan batin tersendiri ketika menemukan ornamen gua yang masih hidup atau berpendar.

Waktu menunjukkan pukul 1 dini hari, kami memutuskan untuk kembali. Sebenarnya kami belum puas eksplor, akan tetapi kami belajar untuk mematuhi kesepakatan yang telah kami buat sendiri dan mengalahkan ego kami. Kami kembali ke base came pukul 1 lebih, mbah Cokro masih menyambut kami, kami sempat kikuk karena telah membanguankan beliau. Akan tetapi beliau tetap ramah dan menemani kami dengan cerita cerita beliau tentang Seplawan.

Ketika manusia bisa menjaga nafsu dan ego mereka, sebuah keseimbangan akan tetap terjaga. Bebas bukan berarti kita bisa melakukan semuanya sesuka kiita, tapi bebas berarti mampu mengetahui batas norma yang tidak boleh di lewati. SALAM SPELEO…

gambar yang kami ambil di gua seplawan
mbah cokro mengantarkan kami di gua seplawan
 Gua seplawan yang dibuka untuk wisatawan, telah dipasangi penerangan. Wisatawan tidak perlu memakai senter disini.
 Foto kami bersama kapendas dan kasuk.

Setelah eksplor bersih bersih dulu, jalur yang kami lewati benar benar berlumpur. Kedalaman lumpur mencapai lutut

Jangan liat orangnya yang cantik heheheee
ini adalah curtain yang bertahun tahun lagi akan menjadi salah satu keindahan gua seplawan yang wajib di jumpai. Ketika kita mampu menahan nafsu kita untuk menyentuhnya
 Ini gambar jelasnya

Mutiara gua yang indah,, terdapat di dalam gua seplawan yang gelap dan pengap
 Mutiara Gua
 Mutiara Gua

ornamen gua yang kami eksplor

 Amplipighi yang terdapat di dalam gua seplawan.


Kapendas dan kasuk di depan batu tetes
 Batu tetes

 Mas Bletog, senior yang membuat ku tertarik dengan caving


Kapendas, mas jengkol. Yang mengajariku untuk peka dan selalu impruf

Mas Bletog, senior ku di caving

hahhhaaa kapendas e gokil, pinter pose

Aktifitas setelah eksplor, mencuci alat alat di sendang

Nyuci karmentel pake prusik


  FOTO BARENG MBAH COKRO SEBELUM KEMBALI KE SEMARANG