Senin, 18 Februari 2013

Pengembaraan Ciremai


Walaupun Mendengar kalau gunung Ciremai di tutup, namun kami bertiga; aku, Budi ( Gori ), Guntur ( Gendon ) tetap berangkat dari Semarang. Kami di antar anak – anak sampai ke stasiun Poncol, jam 19.00 kami bertolak. Di kereta kami bertemu dengan anak – anak Argapeta yang akan berangkat lomba ( Semoga mereka pulang membawa kemenangan …amien ).

Perjalanan di kereta ini terasa singkat, mungkin karena kami semua tertidur lelap. Jam 23.30 kami sampai di Stasiun Prujakan Cirebon. Kami bermalam di sini malam ini. Paginya baru melanjutkan perjalanan ke rumah sodara mas Gendon. Kami harus berjalan sekitar 400m untuk sampai di jalur angkot, kami naik angkot D6 sampai di halte. Kemudian oper mini bus sampai di pertigaan Linggarjati, selanjutnya naik ojek sampai di rumah alm wak Danu. Kami menghabiskan satu hari di Cilimus menyusun perbekalan sembari menunggu adik – adik kami yang menyusul dari Semarang.



9/2 2013
Sabtu 05.00 kami bangun dan bersiap melakukan pendakian gunung Ciremai. Kami di antar om Memed sampai di pertigaan Linggarjati. Dari  sini kami mulai berjalan, sebenarnya ada angkot dan ojek untuk sampai pos pendakian namun karena uang kami hanya tersisa untuk birokrasi kami memilih untuk berjalan saja. Hampir 1 jam kami berjalan ahirnya sampai juga di pos pendakian Linggasana, kemudian melakukan perijinan dan beristirhat sejenak.

Kami berpisah dengan adik adik kami, karena kami naik lewat Linggasana dan mereka lewat Linggarjati. Kami akan bertemu di Kondang Amis nantinya.

Jam 10.00 kami mulai berjalan lagi, butuh waktu 15 menit sampai di Gapura kaki gunung. Kami memulai berjalan keatas, perjalanan terasa berat. Aku sendiri terkadang berhenti dan membuat yang lainnya ikut berhenti. Kami melewati pos Sigenteng dan Kramat Kikuwu, kemudian menggambil jalur ke kanan arah Linggarjati. 

Kami melewati jalur yang begitu rimbun, bahkan terkadang kami menemukan jejak singa. Kami sampai di kondang amis jam 12.30 WIB, aku berjaga di pos, gendon dan gori mencari air. Sembari menunggu mereka aku shalat lebih dulu. Saat mereka dating mereka bergantian untuk shalat. Setelah semuanya selesai, aku dan gori membawa beberapa botol untuk mengambil air di bawah. Untuk mengambil air kami harus kembali ke jalur linggasana dan melewati Jalur yang begitu curam. Setelah mendapatkan beberapa air kami kembali ke pos.

Saat kami mempaking ulang perkab kami di Pos Kondang Amis, adik –adik kami dating. Kita sempat mengira mereka di depan kami ternyata mereka di belakang kami. Dari kondang amis kami melanjutkan perjalanan dan sampai di Kuburan Kuda jam 16.00 WIB, ditengah perjalanan kami beberapa kali menemui lahan camp tanpa nama. Hujan turun begitu lebat ketika dalam perjalanan. Adik adik kami berhenti sejenak, namun kami putuskan untuk tetap berjalan. Sampai di Kuburan Kuda kami mendirikn camp, masak dan membuat perapian ( tapi gagal hehheee )

10/2 2013
Semalam kami kurang tidur karena udara yang begitu dingin. Alhasil aku terbangun dulu, sholat kemudian masak. Karena makanan sudah siap jam 07.00 WIB kami langsung makan dilanjutkan bongkar doom dan packing untuk melanjutkan kegiatan. Jam 09.00 WIB kami memulai perjalanan, 45 menit kemudian kami sampai di Pangalap, 10 menit selanjutnya sampai di tanjakan Bin Bin dan 25 menit sampai di tanjakan Seruni.

Dalam perjalanan kami bertemu dengan beberapa pendaki lain, ada yang dari Jakarta, Bandung dan juga Cirebon. Perjalanan terasa berat karena jalur yang kami lewati memiliki kemiringan kurang lebih 70°. Beberapa kali kami harus memanjat dan mendorong tubuh kami keatas. Hujan yang turun membuat kami harus tetap bergerak, agar tubuh tidak semakin dingin. Hujan juga menjadi berkah bagi kami karena memberi kesempatan untuk mengambil air.

14.15 WIB kami sampai di Batu Lingga. Mulai dari sini jalur lebih terjal. Jalur ini hampir serupa dengan jalur di merapi. Bayang bayang puncak menjadi motivasi setiap langkah kami. Kami mendirikan camp di Sanggabuana II tapi kami sebelumnya harus melewati Sanggabuana I yang dapat di tempuh 30 menit berjalan dari Bapa Tere, dilanjutkan 55 menit untuk sampai di Sanggabuana I. Perjalanan untuk sampai disini terasa lebih melamban, mungkin karena memang tenaga kami sudah mulai terkuras. Kami beberapa kali berhenti untuk sekedar meneguk air dan memakan permen.

 Kami juga berhenti ketika Gori sudah benar benar tidak tahan unuk membuang hajat, sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama tapi aku memilih untuk menahannya karena terbatasnya air. Masih Hujan deras ketika kami memutuskan untuk camp di Sanggabuana II. Diam akan membuat kami semakin dingin, kami putuskan untuk bergerak mendirikan doom dan mencari air. Taklama kemudian doom kami berdiri ditengah guyuran air hujan, kami berteduh dan membuat makanan yang super pedas untuk menghangatkan tubuh, 5 mie instan dan kol mampu kami habiskan ber 3.


11/2 2013
Jam 4 aku terbangun. Rencana awal adik adik akmi akan berangkat jam 07.00 WIB tetapi tetap saja perjalanan kami mulai jam 09.00 WIB. Kami harus melewati pos Pangasinan terlebih dulu sebelum sampai Puncak. Jalur sampai pangasinan sangat terjal. 




Kami harus mendorong dan memaksakan tubuh untuk bergerak ke atas. Jam 10.10 WIB kami sampai Pangasinan, sebuah tempat yang berisi ribuan eidelwis, dari sini kami baru bisa melihat puncak Ciremai. Kami beristirahat sejenak untuk mengambil beberapa foto. 

 40 menit mendaki batuan batuan besar dan lahan eidelwis, jam 11.30 WIB kami semua sampai I Puncak. Subhanallah Puncak Ciremai Sungguh Indah, tidak rugi perjuangan kami sampai disini ketika melihat keindahan Puncak Ciremai. 



gambar kami beserta adik adik kami di atas puncak Ciremai 

 Puncak ciremai


Perjalanan Turun


Puncak 3078mdpl tidak begitu jelas, tidak terdapat tanda puncak seperti halnya di Puncak panglangokan. Dari sini kami menemukan jalur turun yang serupa dengan jalur naik, dan itu cukup meyakinkan kami kalau kaki bakalan panas.

Pos pertama yang kami lewati adalah Gua Walet (2950mdpl ). Tempatnya sangat cocok untuk mendirikan camp karena sumber air yang melimpah dan terbebas dari angin gunung yang sangat dingin.

Pos berikutnya Sanghiyang Ropoh (2650 mdpl ). Butuh 30 menituntuk menggapai pos ini, jalannya juga cocok untuk lari. Dari sini kami memprediksi mampu sampai pos pendakian sebelum gelap.

Pasangrahan, 1jam 25 menit dari Sanghiyang Ropoh. Berupa dataran luas yang mampu memuat sekitar 4 sampai 5 doom ukuran biasa. Jalur ini lebih panjang dan melelahkan. Dari sini Adik kami sudah terlihat kelelahan, kami mencoba menggodanya agar perjalanan terasa lebih ringan dan menyenagkan. Perjalanan mulai melambat karena kakinya yang sudah mulai sakit.

Tanjakan Asoi. Aku rasa dinamakan tanjakan asoi karena jalur jalur yang tak kunjung henti dan terkadang menanjak. Jalur ini enak untuk turun bukan naik. Kami sampai disini pukul 16.30, beristirahat sekedar untuk minum dan shalat.

Air Hujan mulai turun perlahan membuat kami menjunjung kembali kerier kami dan melajutkan perjalanan. Kaki adik kami semakin sakit, jalannya semakin melambat. Kami selalu berusaha menyemangatinya. Kaki dan pundak kami pun semakin terasa panas. Kami sampai Arban ( 2050mdpl ) pukul 17.00 WIB. Jalan semakin gelap, terbatasnya penerangan yang kami bawa mempengaruhi kecepatan perjalanan kami.

Kami sampai di Panggu Badak ( 1570 mdpl ) pukul 17.15 WIB dan Pos Cigowong (1450mdpl )17.45 WIB. Dari sini kami memutuskan untuk langsung turun karena bayangan kami pos 1 dengan pos pendakian itu dekat. Dan ternyata kami salah besar. Ini merupakan titik terberat kami, perjalanan ini terasa sangat panjang, melelahkan dan membosankan. Berhenti membuat pundak dan kaki kami terasa sakit.

Setiap harapan muncul ketika jalan didepan kami mulai terlihat jelas, dan kepasrahan terlihat lagi karena keharusan melewati hutan yang gelap lagi. Berjalan 2jam tak kunjung juga menemukan peradaban. Saat itu adik kami sudah benar benar kelelahan untuk berjalan. Kami (aku, Gori, Gendon ) putuskan untuk jalan duluan, dengan harapan mereka mau mengikuti kami. Namun ternyata tidak, kami berjalan terlalu jauh dan membuat jarat yang semakin jauh dengan mereka. Kami putuskan untuk berhenti dan menunggu mereka baru melanjutkan perjalanan.

1jam menunggu mereka tak kunjung datang. Kami mulai kedinginan dan memutuskan untuk mendirikan doom dan camp satu kali lagi di area datar sekitar situ. Dengan pertimbangan waktu dan kondisi mereka yang tak kunjung menyusul kami. Kami hanya memiliki sisa 1 botol air, yang kami bagi separo untuk masak dan sisanya untuk esok hari bekal perjalanan.
2 ½ jam kemudian mereka berdua sampai di tempat kami mendirikan Camp. Sempat ingin kembali melihat kondisi mereka, namun kami tak memiliki senterkami yang masih menyala. Jafar membawakan kerier hesti, dengan 2 kerier dia  berjalan menarik hesti yang sudah kelelahan. Karena kondisi sudah malam kami meminta mereka mendirikan camp juga.  

Keesokan harinya keadaan hesti mulai membaik. Setelah menunggu mereka masak dan packing kami melanjutkan perjalanan turun Pagi ini kami tidak sarapan karena bekal kami yang mepet dan terbatasnya air yang ada. 09.00 WIB kami bergerak turun, jalur yang kami lewati hampr sama dengan jalur semalam, masuk keluar hutan pinus. 50 menit Berjalan ahirnya kami melewati perkebunan warga,kemudian perlahan melewati satu demi satu rumah warga. Kami sampai di pos pendakian pukul 09.30 WIB. Sayang pos pendakian kosong dan dalam kondisi di kunci, kami menghangatkan perut dulu dengan memakan seporsi mie ayam dekat pos pendakian.

Penjual mie ayam yang baik hati dan kasihan melihat kondisi kami yang kotor dan basah, menawarkan kami untuk membersihkan diri di rumahnya.  Setelah kami semua selesai membersihkan diri, kami berpamitan dengan bapak penjual mie untuk melanjutkan perjalanan ke paman nya mas gendon.
Kereta kami berangkat dini hari, kami menghabiskan waktu di rumah alm wak Danu. Baru jam 23.00 WIB kami di antar ke stasiun untuk kembali ke Semarang.