Senin, 08 April 2013

Kenapa musti CAVING



Ahir ahir ini dunia percavingan sedang dilanda musibah heboh pemberitahuan disana sini. Beberapa saudara kami sesama caver harus mengalami musibah di akibatkan cuaca yang kurang bersahabat. Pagi begitu cerah tapi siang mampu berubah menjadi hujan lebat beriring badai. Baru saja kami harus kehilangan saudara kami alm Batum dan alm Hari dari Mapateksi. Sungguh menyakitkan rasanya ketika kamu harus mencari korban yang sudah jelas meninggal dan itu sendiri merupakan orang yang kamu kenal. Menyusul setelah itu saudara kami dari dari Matala biogama yang menjadi korban di gua seropan.


Ini juga menjadi alasan kenapa aku begitu keras dalam melatih adik adik ku di Caving, Caving merupakan olahraga alam bebas yang sangat berbahaya. Dan aku gak mau terjadi apa apa pada adik adik ku sendiri. Aku gak tau apa yang ada di pikiran mereka tentang aku, yang jelas aku gak mau mereka teledor ketika di lapangan. Semua kemungkinan dapat terjadi di lapangan, dan kita harus belajar menanggulangi itu semua.

Terima kasih kepada rekan rekan alm yang telah menjadikan semua itu pembelajaran yang berharga bagi kami. Kita harus bersukur karena kita tidak harus merasakan semua itu untuk menggambil ilmu di baliknya. Sebagai seorang pengiat alam bebas kita harus mengutamakan savety first. Dan itu gak ada kompromi, kalau kita mengesampingkannya kita harus siap mendapatkan resikonya.

Terbesit di kepalaku ingatan saat memasuki gua Tulangan sendirian. Dalam kondisi hujan lebat aku sebagai instruktur caving nekat memasuki gua yang merupakan aliran air itu. Air mengalir deras saat itu, tapi aku tetap nekat memasukinya. Kalau ditanya apa gak takut , jujur aku takut saat itu. Bahkan aku akui itu merupakan pertama kalinya aku merinding masuk kedalam gua di tambah aku harus memasuki gua itu sendirian. Suara riuh air yang bertabrakan di dinding dinding gua membuat ku merinding dinggin. Setengah jam aku sendirian di dalam gua sampai ahirnya 2 orang yang berjaga di gua lain menghampiriku di dalam. Mereka mengatakan kalau gua Kampret tidak berani di lalui karena derasnya aliran air.

Saat meresqu teman ku alm Batum dan Hari yang terhanyut air bah di gua Kampret. Itu membuatku termenung. Gua Kampret yang notabenya di bawah gua Tulangan saja mampu terkena air bah yang begitu deras, itu berarti Gua Tulangan saat itu dapat dipastikan telah penuh dengan air. Ini membuat ku merinding, gak kebayang kalau semua itu terjadi ketika aku sedang berada di dalam gua Tulangan. Air bah ini datang ketika siang bolong dan hujan pun tidak turun. Sedangkan aku memasuki gua dalam kondisi hujan deras.

Istigfar berulang ulang terucap di hatiku. Aku bersukur pada Allah telah menjagaku malam itu. Dan ini menjadi sebuah pembelajaran berharga bagiku, bahwa keselamatan itu nomer satu. Gak usah nekat deh kalo emang cuaca gak bersahabat, kita harus mulai bicara pake logika akal sehat.

Tetep semangat buat teman teman Caver, semoga semua musibah yang baru kita alami menjadi tamparan keras bagi kita agar mengutamakan prosedur keamanan di lapangan, sekaligus membuat kita peka terhadap bahasa alam. Salam speleo....