Kamis, 22 Agustus 2013

Tanah tertinggi di Jawa Tenggah

Gunung Slamet (3.428 mdpl ) adalah gunung berapi yang terdapat di Pulau Jawa. Gunung ini berada di perbatasan Kabupaten Brebes, Banyumas, Purbalingga, Kabupaten Tegal. Merupakan yang tertinggi di jawa tenggah dan tertinggi kedua di Jawa. Kawah IV merupakan kawah terahir yang masih aktif sampai sekarang dan terahir aktif hingga pada level siaga medio pertenggahan 2009

Gunung slamet didaki melalui 3 jalur, lewat jalur sebelah barat kaliwadas, lewat jalur sebelah selatan Batu Raden dan lewat jalur sebelah timur bambangan. Dari ketiga jalur tersebut yang terdekat adalah lewat bambangan, selain pemandangannya indah juga banyak kera liar yang dapat ditemui dalam perjalanan menuju ke puncak slamet.








Gunung yang tak berair ini mejadi tujuan perjalanan kami kali ini dengan pemilihan jalur Bambangan. Kamis 15 Agustus bakda isyak kami ber empat aku, davit, robinson dan Adhy mulai menjinjing kerier yang telah kami siapkan sebelumnya. Menggunakan kuda besi kami melaju menuju Purbalingga dengan rute perjalanan Kendal-Batang-Pemalang-Pekalongan-Purbalingga. Perjalanan yang sebenarnya dapat kita tempuh dalam waktu singkat ini harus kami tempuh dalam waktu yang sedikit ekstra karena jalur pantura masih dalam kondisi arus balik.


Dalam perjalanan kami singgah dulu di rumah ketua Wapalhi Ari yang berada di Weleri Kendal. Kemudian singgah kembali di rumah om fery, salah satu sodara dari Adhy di Pekalongan. Karena kondisi kami yang sudah sangat mengantuk dan tidak mungkin melanjutkan kembali perjalanan kami putuskan untuk menginap di rumah om fery dan baru keesokan harinya melanjutkan perjalanan ke Purbalingga.

Jum’at 16 Agustus, pagi pagi buta kami terbangun dari tidur. Kami mulai membagi tugas, aku dan adhy membeli beberapa kebutuhan di pasar tradisional setempat sedangkan Robin dan Davit membongkar kerier kembali. Kami mulai mempacking ulang semua barang barang yang akan kami bawa. Setelah sarapan dan memastikan semuanya siap, pukul 09.30 WIB kami bergegas melanjutkan perjalanan.

Persiapan perjalanan di rumah om fery, pekalongan


Berbekal  informasi yang telah kami cari sebelumnya melalui internet kami berjalan hanya mengandalkan papan petunjuk jalan dan sesekali bertanya pada orang orang yang kami temui di jalan. Karena memang dari kami berempat tidak ada yang mengetahui posisi pos pendakian jalur bambangan. Di tengah perjalanan kami bertemu dengan beberapa orang yang sama sama menjinjing kerier, dari sini kami menemukan rekan perjalanan yang lebih mengetahui jalur walaupun kami juga sempat nyasar namun pada ahirnya pukul 14.00 WIB kami sampai di Pos pendakian Bambangan.

Setelah menyelesaikan perijinan di pos pendakian dengan membayar uang retribusi @5.000, kami mulai mengisi botol botol yang kosong, dan ternyata benar air sangat mahal di sini karena kami harus membayar beberapa rupiah untuk setiap botol yang kami isi. Pukul 14.30 WIB kami mulai star perjalan. Kami harus melalui beberapa rumah warga kemudian berbelok ke kanan dan melalui perkebunan. Dibutuhkan 2 jam berjalan untuk sampai di Pos payung dengan medan yang lumayang terjal. Selain kami berempat ternyata banyak sekali pendaki pendaki yang lainnya, hal ini bisa dilihat dari ramenya manusia di pos ini. Belum lagi di pos pos selanjutnya dapat di pastikan ribuan orang mendaki bersamaan dengan kami. Bisa jadi karena ini bertepatan dengan peringatan hari kemerdekaan RI.

Perjalanan berlanjut, kami mulai memasuki kawasan hutan gunung slamet. Jalur yang kami lewati dapat di pastikan memiliki kemiringan yang membuat kencang otot kaki. Jalur berupa tanjakan dengan medan tanah dan akar akar pohon yang mencuat dari tanah. Langit mulai gelap saat kami berjalan dan 2jam berjalan barulah kami sampai di pos pondok walang. Kami beristirahat sejenak di sini untuk memasak perbekalan yang kami bawa.

Setelah perut kenyang kami mulai melanjutkan perjalanan. Hadlamp wajib terpasang sekarang, karena memang langit telah berubah menjadi gelap. Tujuan kami selanjutnya adalah pos pondok cemara, medan yang kami lewati tidak berbeda jauh dengan sebelumnya. Akan tetapi jalur ini lebih pendek, karena kami hanya membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam lebih. Sebenarnya ada air di pos ini, namun kita tidak menemukan karena sungai sedang kering.

Selangkah demi selangkah kami menitih jalur yang ada di hadapan kami, terkadang kami berehenti untuk memberikan kesempatan pendaki lain mendahului langkah kami. Beberapa kali juga kami beristirahat karena napas yang sudah mulai tidak konstan. Kami tetap berjalan dalam kelompok kami berusaha menjaga satu sama lain. 45 menit berjalan kami sampai pos 4 shamarantu, 45 menit kemudian kami sampai di pos 5 Sanghiang rangkah. Dari sini senyum dan semangat kembali hadir, kami pos 5 menjadi pertanda kalau kami sudah separo jalan.

Perlahan dengan pasti kami  menuju pos 6. Sebuah pemandangan yang baru ketika kami melihat kembang api di nyalakan di atas gunung oleh pendaki lain yang berada tak tau di pos berapa di bawah kami. Indah tapi itu bukan tempatnya, sebuah keindahan yang tidak sepadan dengan resiko yang mungkin akan terjadi seperti kebakaran hutan. Berharap tidak ada percikan api kecil yang nakal mengenai ranting pohon yang kering.

30 menit berjalan kami sampai di pos 6, hanya sekedar menata alur napas kami perjalanan tidak berhenti lama disini. Kami melangkahkan kaki kembali untuk mencari tempat camp. Tak lama berjalan ahirnya kami menemukan lahan kosong yang belum berpenghuni, hampir semua lahan kosong yang kami lewati di jadikan tempat camp oleh pendaki pendaki lain. Kerier kami bongkar, Davit dan robin mendirikan tenda, adhy membuat perapian sedangkan aku sendiri memasak makanan dan membuat minuman hangat. Jam 03.30 WIB kami selesai mendirikan tenda dan menyantap makanan yang telah kami buat, kami putuskan untuk istirahat tidur sejenak baru esok harinya kembali melanjutkan perjalanan.

Udara dingin enggan membuat kami bergerak. Kami melewatkan sunrise slamet hanya disini, melihat matahari terbit melalui celah celah pepohonan. Semburat warna orange tetap terlihat indah. Pukul 06.00 WIB kami memulai perjalanan ke puncak. Tidak jauh dari tempat camp kami ternyata sudah pos 7 sanghyang jampang  dan yang paling membuat kami menyesal adalah pemandangan yang di sajikan di sini sungguh begitu indah.

Kebesaran Tuhan yang terlihat dari pos 7 jalur bambangan

2 pos lagi kami akan sampai di puncak, Pos plawangan (lawang=pintu) yang begitu indah karena merupakan hamparan padang ilalang berdampingan dengan pohon pohon eidelwis yang sedang mekar. Di hadapannya Jalur berbatu menjulang panjang, di ujungnya terdapat puncak slamet. Dari plawangan sampai di puncak di butuhkan waktu 45-60 menit. Darisini pendaki dapat melihat Puncak slamet yang begitu besar dan hamparan kaldera yang sangat luas dan menakjubkan, yang biasanya disebut dengan segoro wedi.

Semangat kami mulai berkobar, mulai mendaki bebatuan cadas dan kerikil kerikil. Adhy yang sedang tidak fit memutuskan untuk turun saat di tengah jalan. Hanya kami bertiga yang sampai di puncak gunung Slamet. Subhanallah, segala puji sukur kami haturkan atas ijin Allah kami masih di beri kesempatan untuk berdiri disini tanah tertinggi di jawa tengah. Hamparan awan menutupi semua yang ada di bawahnya. Sebuah kebesaran Tuhan yang membuat kami semakin merasa begitu kecil dan tak berdaya.

Gunung adalah tempat kita menundukkan kesombongan
Tempat mengembalikan sifat sifat hewani kita yang ada dalam diri
Tempat menunjukkan siapa sebenarnya diri kita
Sekaligus guru yang tak kenal ampun


Dokumentasi perjalanan yang kami ambil

dari kiri; aku, Davit, Adhy, Robin
fotokami sebelum meninggalkan posko tercinta


dari kiri; Adhy, aku, Davit, Robin
saat di pondok pemuda pendakian gunung Slamet


Gerbang pendakian gunung Slamet
sekaligus awal dari langkah kami


perjalanan melewati perkebunan warga



dari kiri; Robin, aku, adhy
melepaskan lelah sembari bercanda 


Tugu perbatasan yang aku lupa namanya hehhhee


Melihat betapa indanya hamparan awan di pos 7


Adhy saat berada di atas pos 8


Istirahat ala Robin saat menunggu yang lainnya sampai di atas


Adhy, beristirahat menyender di batang pohon sembari melihat eidelwis


Aku berada di antara kebesaran Allah


Keindahan yang dapat kami abadikan melalui kamera pocket,
 lokasi penggambilan gambar berada di atas pos 8


Gunung sindoro sumbing terlihat dari gunung slamet


Terimakasih kepada orang tua saya
yang telah memberikan restunya untuk melakukan pendakian ini


dalam foto; Robin dan Davit
Cara kami menikmati kebersamaan di puncak Slamet


jaya jaya lah WAPALHI jaya jaya lah wapalhi 
kau selalu di hatiku


Ku kibarkan kau merah putih
bukan karena ini 17 agustus
tapi karena aku bangga padamu tanah air ku




Persembahan untuk saudara kami adhy, 
yang karena sakit harus turun di tengah perjalanan

Indonesia, kau adalah segalanya


berdiri di tanah tertinggi, membuatku terlihat begitu kecil


Masih ada langit di atas hamparan awan,, kecil kan kita ??
tidak pantas untuk merasa sombong


Upacara, sebagai bentuk rasa sukur kita 
karena berhasil menaklukkan diri untuk sampai di puncak Slamet