Kamis, 19 September 2013

Belajar dari alam

Alam adalah guru yang tidak pandang bulu dan tidak kenal ampun

Tempat merobohkan kesombongan manusia

Habitat yang sangat tepat untuk mengembalikan kembali sifat hewani yang ada dalam diri manusia

Kuliah mu jurusan opo nduk ? kok gaene sobo alas ( kuliah mu jurusan apa dik ? kok sering maen ke hutan)
pertanyaan ini sering sekali saya dapatkan dari orang orang terdekat saya. Begitu juga dengan pertanyaan : kenapa musti naik gunung toh pada ahirnya kamu turun lagi ?, kenapa naik gunung kalo cuman mau masak sama tidur di sana, enakan juga di kasur anget lagi.


Bukan satu orang, tapi hampir semua orang bertanya seperti itu. Dan ini menjadi alasan saya kenapa saya menulis artikel ini.
Seperti cinta dengan seseorang, kita tidak memerlukan alasan kenapa kita mencintainya, karena kalau kita memiliki alasan dalam mencintai seseorang berarti nafsu mengambil sumbangsi di dalamnya. Seperti hanya kenapa saya suka naik gunung, saya juga tidak dapat menjelaskannya kenapa saya suka naik gunung hehee. Saya hanya ingin membagi sedikit apa yang saya dapat dari gunung.

Mendaki gunung itu tidak segampang sountrack nya ninja hatori.
Mendaki gunung lewati lembah,
sungai mengalir indah ke samudra,
bersama teman bertualang
atau seperti lagu anak naik naik kepuncak gunung
naik naik kepuncak gunung
tinggi tinggi sekali
kiri kanan, kulihat saja banyak pohon cemara aa
kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemara

Mendaki gunung itu berat dan melelahkan. Kita harus membawa kerier besar untuk membawa semua perlengkapan dan perbekalan kita. Boleh sih hanya sekedar membawa tas ransel biasa, namun kita juga harus siap konsekuensi kehabisan bekal dan kemudian kelaparan. Seperti hanya sebuah kehidupan Jika ingin sukses di kemudian hari, kita harus menyiapkan perbekalan yang banyak walaupun nantinya kita akan keberatan. Kuliah yang rajin, menuntut ilmu sebanyak banyaknya agar kita tidak kekurangan bekal nantinya.

Ketika memulai langkah yang pertama, otot otot kaki akan tertarik dan terasa begitu kencang. Beban yang berat akan semakin memperlambat gerakan kita, disini penyesalan kenapa kita memutuskan untuk mendaki gunung akan muncul. Dan perasaan untuk menghentikan perjalanan lambat lambat akan muncul di otak kita, di tambah lagi ketika melihat rekan yang lain sama sama membawa beban berat dan tidak mungkin kita memintanya membawa beban kita. Seperti hanya ketika kita keluar dari zona nyaman kampus dan mulai menginjak pada dunia kerja. Pada awalnya semua akan terasa berat karena kita harus bekerja di bawah tekanan dan tuntutan. Mulai merasakan tidak ada orang yang dapat membantu meringankan kerja kita karena memang mereka sudah mempunyai peran masing masing di perusahaan itu. Mulai merasakan membutuhkan orang lain walaupun hanya untuk sekedar melepaskan keluh kesah.

Begitu juga ketika kita sampai di puncak. Kita tidak dapat selamanya berada di puncak, kita harus bergerak turun. Karena udara yang begitu dingin, angin yang begitu kencang mampu membunuh kita jika kita berlama lama disana. Sama halnya ketika kita berada di posisi tertinggi sebuah pekerjaan, kita harus tau kapan kita harus turun. Karena ketika terlalu lama di posisi puncak suasana akan tidak lagi kondusif, kita akan mulai merasa kekurangan dan kekurangan yang akan membuat kita melakukan tindakan yang seharusnya tidak kita lakukan. Jadi orang jujur akan membuat kita banyak musuh, tiidak jujur akan membuat hidup kita tdak tenang.

Masih banyak lagi yang dapat kita petik dari sebuah perjalanan kita. Dari sini saya jadi tau arti dari kalimat seorang pujangga besar yang mengatakan “negara ini tidak akan runtuh ketika pemudanya masih suka mendaki gunung, menyusuri sungai dan memanjat tebing”

Apapun perjalanan kita, akan bermanfaat ketika kita mampu memetik hikmah di baliknya