Minggu, 05 Januari 2014

Alkohol dan Mapala

“ ahh shit, tai kucing mapala itu bisanya cuman minum minum dan ngedraks doang “ itu kata kata yang aku dengar dari seseorang yang aku temui ketika mendaki gunung Merapi. Kata kata itu terlontar ketika dia melihat proses pendidikan mapala di Pasar Bubrah Merapi.
            
      Sempet gondok di hati ketika mendengar kata kata itu, karena aku sendiri seorang mapala dan lingkungan ku tidak seperti itu. Aku pengen bilang ke orang itu “ gak semua orang seperti itu mbak, tergantung dan kembali ke pribadi masing masing jangan di pukul rata” tapi kata kata itu tidak keluar sama sekali dari mulut ku.     

Setelah berinteraksi dengan mapala mapala yang lain, memang beberapa di antara anak mapala ada yang peminum. Ini membuatku maklum pada kata kata yang dulu aku dengar dari orang itu. Bukannya sok bijaksana hehhee tapi dari pada kita menjudge seseorang karena dia peminum atau  apalalah mending kita melihat dari sudut pandang yang lain. Kalau soal dia mau munim atau merokok atau apalah itu kita kembalikan saja pada yang empunya badan, aku rasa mereka juga tau dampak bagi badan mereka nantinya seperti apa.

“ loh kok kamu tau gituan li, jangan jangan kamu bawa itu lagi kalo naik gunung biar anget ?” tanya seorang temen ke aku ketika aku menyebutkan salah satu jenis minuman keras. Ya jelas aku tau beberapa teman ku ada yang peminum, aku juga tau baunya seperti apa hehee. Itu sisi positif yang aku ambil, aku jadi tau alkohol itu seperti apa tanpa perlu aku mencobanya. Biar gak di bohongin orang kamu harus tau, kalo gak tau ntar gak nyadar lagi kalo lagi di bohongin. Setidakny kalo aku tau itu alkohol aku bisa menolaknya ketika di tawarin minum, bayangin kalo gak tau bisa bisa asal tengguk aja. Aku juga bawa alkohol ketika naik gunung, alkohol 70% buat P3K hehee.


             Jadi pada intinya, ketika kita melihat sesuatu yang tidak tepat di suatu tempat lebih baik kita berpindah ke tempat lain untuk melihat dari sisi yang berbeda