Rabu, 01 April 2015

Bisikan rindu

Apa yang lebih merindukan dari melangkahkan kaki menuju kebesaran Mu
Apa yang lebih merindukan dari menjelajahi alam bersamamu

Beban berat di pundak
Otot kaki yang tertarik
Keringat berpuih
Wajah pucat pasi
Letih, tertatih
Perkara wajar dalam setiap pendakian itu menjadi tak terasa karena kehadiran mu



Tawamu
Candaan mu
Kekonyolanmu
Rayuan bawel mu
Menjadi obat penawar semua itu

Melangkahkan kaki bersama
Menembus pekatnya alam rimba
Ransel d pundak menjadi wadah bekal kita
Bersama bukan berarti berjalan bersama kanan dan kiri
Kita berjalan bersama dengan kau memimpin di depan
Aku tak ingin menjadi beban mu
Aku akan berjalan walau tertatih menyeimbangkan langkah mu

Kau selalu menengok kebelakang
Memastikan aku masih berada di belakang mu
Aku masih di sini tepat di belakang mu
Karna aku tak mampu berjalan tanpamu

Candi cetho kemudian candi ketek
Lantas tanah menanjak mulai kita lalui
Berjalan bersama bermula dari doa
Berharap kembali dengan seijin Nya
Hutan ini bukan milik kita
Namun Tuhan mengijinkan tuk menjamahnya
Dinginnya lawu
Menyapa malam saat itu
Kayu yang mulai mengarang kemudian menjadi Abu
Mengorbankan kehangatannya menemani hayalan kita tentang masa tua
Bintang di langit 
Giratan hitam pepohonan
Menjadi saksi cinta
Cinta yang tak terucap
Cinta kepadanya
Cinta kepada Mu
Cinta kepada alam Mu

Sabana sabana menunjukkan kuasa Nya
Menjadi medan kita berdzikir atas kuasaNya
Membuat ku tahun siapa yang ada di depan ku
Membuat ku tau siapa yang akan selalu kusebut dalam doa Ku pada Mu
Apa yang lebih merindukan dari semua itu
Mendaki bersamamu yang ada di hatiku