Kamis, 02 April 2015

Ribetnya birokrasi mendaki

Sekarang saya baru merasakannya ketika mendaki terhalang birokasi orang tua
Ya kemarin saya bebas saja kesana kemari hanya berbekal ijin ibu, persoal bapak nanti laporannya saja setelah mendaki heheheh

Kalo dulu sih d kos, mau gak balik juga gak kelihatan, nah lo sekarang mau gak pulang gimana orang jelas kelihatan orang dirumah, anak cewek lagi
Dan sekarang mau mendaki susahnya bujubune kaya mau ijin nikah aja hehee
Saya masih memikirkan bagai mana cara mendapatkan restu bapak

Masih berusaha berangkat mendaki karna ijinnya
Yo saya berpikir, tak bisa selamanya saya mendaki dengan bersembunyi darinya
Saya harus menyelesaikan persoalan ini..bukan menghindarinya
Saya masih berharap bapak akan berkata " ya hati hati nak, kamu harus pulang dengan selamat, belajarlah dari alam " 

Hehehhee masih berjuang kata kata itu tak hanya jadi expektasi belaka
Sebenarnya saya paham apa yang menjadi kehawatiran bapak saya
Beberapa suara di luar sana tentang mendaki gunung itu bla bla bla dengan kesempurnaan bumbu kenegatifannya membuat bapak tak mengijinkan ku mendaki

WOY JANGAN ASAL NGOMONG TENTANG PENDAKI GUNUNG BLA BLA BLA
WOY JANGAN MENGUNIVERSALKAN SEMUANYA
ingin berteriak ketika ada orang orang ngomong seenaknya, pengen ngomong gitu juga ke bapak
Cuman itu bukan cara saya, saya harus bicara berkelas dan wibawa, pendaki tak searogan itu kataku dalam hati
Saya paham bagai mana kehawatiran bapak saya..saya juga harus melihat dari sudut pandang orang tua
Apalagi saya anak perempuannya
Terlepas dari rasa jengkel saya karena di larang ini itu
Saya berdoa pada Tuhan
"Jika memang langkah ini mendekatkan ku dengan Mu , jika memang langkah ini tempat belajarku, mudahkan lah aku dalam memberi penjelasan kepada bapak saya..pahamkanlah penjelasan penjelasan saya..dan ijinkanlah saya melangkah dengan restunya"
Saya masih berjuang dan smoga saya berhasil