Jumat, 12 Juni 2015

Dari Boyolali ke Tandes Surabaya

Tanggal 23 mei 2015, saya melangkahkan kaki keluar tempat nyaman saya ( rumah) untuk mencari rezeki di kota orang. Sudah saya siapkan mental saya untuk moment ini, berusaha tidak meneteskan air mata di detik detik berpamitan dengan orang tua. berusaha terlihat tegar agar orang tua tidak bertambah cemas dengan anak nya yang mungil ini hehehe.

Satu malam sebelumnya saya masih terbelit masalah perijinan orang tua, bapak saya masih ragu meng ijinkan saya berangkat ke Surabaya. Semalaman penuh kami berdiskusi perihal kemungkinan kemungkinan yang di khawatirkan ayah saya, tentang gambaran gambaran apa yang akan terjadi disana, tentang sahabat sahabat dan orang orang yang saya kenal disana, tentang semuanya, sampai ahirnya bapak saya mengijinkan saya dan merestui langkah saya walaupun dengan hati yang berat.

Barang barang bawaan saya sudah saya kemas sepraktis mungkin, satu tas jinjing dan satu back pack harus cukup prediksiku,( tidak mau terlihat seperti pindah kampung). mulai menjinjing back pack saya berpamitan dengan ibu saya, mencium tangannya dan pipinya. Dengan keusilan saya mengajak ibu saya tos ala anak anak jaman sekarang tos kemudian menarik tangan dan bilang lalallalaaa. serupa dengan ibu kemudian saya berpamitan pada ayah saya, adik, nenek kemudian sahabat saya Jeky. saya masih berusaha terlihat riang dan tersenyum walaupun dalam hati terasa getir, tos lallala adalah pengalih saya agar tak menetes air mata.


Ditemani sahabat saya Noval dan motor Junior ( motor varionya) saya meninggalkan Boyolali menuju Jogjakarta. Rute perjalanan kali ini adalah Boyolali- Jogjakarta- Surabaya- Tandes. Karena telah membuat janji dengan atasan saya untuk sampai di terminal bungurasih siang hari, saya putuskan untuk berangkat dari jogjakarta menjelang pagi. masih ada waktu satu malam untuk berpamitan dengan teman teman saya yang ada di jogjakarta pikir saya.

Sesampainya di Jogjakarta kami menuju rumah Alfiyan ( orang yang selalu saya repotkan ketika saya berada di jogja, rumahnya selalu menjadi tempat kami meminta makan gratis hehehe. saya juga sering sekali membeli es cream di warung bapaknya, harganya murah dan enak ), mengobrol kesana kemari kemudian kami kepikiran untuk makan gratis di rumah bekti ( sahabat noval dan alfiyan) yang habis ada acara hajat nikahan kakanya.

Kembali menenteng barang bawaan kami ber tiga meluncur kerumah Bekti. Seperti harapan, masih ada sisa sisa makanan hehee. tanpa basa basi dan menunggu di persilahkan Noval mendahului kami mencoba makanan yang tersisa. beberapa makanan tersaji dengan berbagai jenis, ada sate, mie daging, dan beberapa jenis lagi yang tidak saya ketahui namanya hehehe. alfiyan menyusul mengambil piring dan mengisinya dengan hidangan yang dia suka. saya memilih untuk menyomot makanan dari piring mereka saja, karena perut saya masih terasa kenyang. tapi ketika Bekti membawa pempek napsu makan saya meningkat hahha kami bertiga berebut makanan itu, piring bergilir lah, satu makan kemudian di oper ke kontestan berikutnya hahah begitu sampai habis.

Melihat jam di tangan sudah menunjukkan jam sembilan lebih, saya dan Noval berpamitan terlebih dulu. masih ada sekian jam untuk beristirahat sebelum memulai perjalanan panjang menaiki box berjalan ( sebutan saya untuk bus, di karenakan saya kurang suka menaikinya). kami kembali ke madurejo untuk meletakkan barang bawaan kemudian merebahkan diri di kasur, setelah menyapa bara bili ( kucing peliharaan Noval ) dan mengusili mereka kami kemudian beristirahat.

Malam itu saya tak bisa tidur, melihat Noval yang mengigau karena demamnya. Dalam posisi duduk saya megusap keringat yang keluar dari tubuhnya. mencari tas P3K saya menemukan parasetamol, kemudian memintanya untuk meminumnya baru kemudian kembali beristirahat. Dia beberapa kali bergulang guling tanpa sadar, keringat bercucuran deras dari tubuhnya sampai alaram berbunyi pada jam tiga saya tak tega membangunkannya.

Masih dalam posisi duduk dan bersender pada tembok sesekali saya hampir terpejam, namun ketika melihatnya bergerak saya kembali terbangun. demamnya begitu tinggi malam itu. Menjelang subuh, saya mulai menata ulang barang barang bawaan saya, menjalankan ibadah kemudian membangunkannya. betapa kagetnya dia melihat jam, masih setengah sadar dia kemudian beranjak dari tempat tidur dan bersiap mengantar saya. "sampai terminal godean saja nanti" kata saya, namun dia meminta untuk mengantarkan sampai di surabaya.

Sekitar pukul lima pagi kami meluncur menuju terminal, jalanan masih sepi dan udara jogja masih terasa dingin dan tipis. Memarkir sepeda di sebelah terminal, kemudian kami berjalan meuju area bus antar kota. melihat Sumber Rahayu terparkir dan meunggu penumpang kami kemudian masuk dan memilih tempat duduk, kami memilih seat 2 sebelah kiri. perjalanan panjang dimulai kurang lebih 9 jam dibutuhkan untuk sampai di terminal Bungurasih Surabaya.

Bus masih sepi namun sudah berjalan, penumpang dapat di hitung dengan jari. keluar dari Jogja dan memasuki Klaten saya mulai merasa mual, menyamarkan rasa mual kemudian saya mencoba menutup mata saya, berharap dapan terpejam dan bangun sampai di Surabaya (ekspektasi). Berbincang, makan, minum kemudian tidur hal yang kami lakukan di dalam bus antar kota itu. melihat jam tangan dan mancari nama daerah dari spanduk spanduk pinggir jalan, ternyata kami sampai di sidoharjo.kemudian saya menghubungi pak Iskandar, manajer operasional perusahaan yang akan menjemput saya di terminal.

sesampainya di terminal dan masih menghubungi Pak Is, dengan wajah dan badan yang sudah sedikit lusuh kami berjalan memasuki terminal bungurasih dan mencari toilet. kelaur dari toilet kami berjumpa dengan Pak Is di persimpangan gang kecil. berbincang sejenak menanyakan rute berikutnya kemudian kami mengisi tenaga kami terlebih dahulu dengan semangkok soto di area terminal. menimbang beberapa hal kemudian Noval ikut mengatar saya ke Kos yang akan saya datangi.

Dari Terminal Bungurasih, berarti saya telah sampai di surabaya. kami bertiga kemudia menuuju Tandes, yaitu daerah yang akan menjadi jalan saya mencari Rejeki. melewati jalan tol, ini membuat saya tidak bisa mengenal daerah daerah sekitar. kemudian kami berbincang dengan pak is tentang rute rute yang akan kami lewati dan pola transportasi di daerah Tandes. satujam berjalan kami kemudia sampai di daerah Tades, sebuah daerah yang mulai berkembang di Surabaya bagian Barat.

kami meurunkan tas dari mobil kemudian memasuki gang kecil yang nantinya menjadi kos saya, menginjakkan kaki pertama disana dan memasuki gang itu saya tercengang dengan lingkungan yang akan menjadi tempat tinggal saya, saling bertatap muka dengan Noval, seolah kami saling memahami apa yang ada dalam pikiran kami. Pak Is kemudian meminta kunci kos kepada si empunya, dan berjalan lagi melewati gang dan memasuki deretan kamar yang berjajar lebir rapi dan terlihat bersih, kami berhenti di kamar nomer delapan. Saya dan Noval kembali bertatap muka dan terlihat lebih lega, kemudia Ibu kos membukakan pintu, membersihkan kamar, memasukkan kasur dan menghidupkan keran.

menyerahkan kunci kos kepada saya, pak is kemudian berpamitan. saya dan noval kemudian membereskan barang barang bawaan dan menata kamar kecil itu. Surabaya terasa panas untuk saya anak gunung yang biasa hidup dalam udara dingin. dengan kondisi alakadarnya kami kemudian merebahkan diri dan beristirahat sejenak.

Bakda mahrib kami berjalan mencoba mengenal medan, Noval menemani saya mengenal area sekitar, mencari tempat tempat umum dan tempat tempat penting seperti terminal, tempat makan dan swalayan. kami berjalan menuju terminal manukan yang terletak di timur kita. lumayan agak jauh untuk kita yang berjalan kaki, kami kemudian kembali ke kos setelah mengisi perut dengan penyetan dekat terminal. karena jam sepuluh malam kos di gembok dari dalam kami tidak sempat mencoba berjalan menuju arah kantor saya.

Malam pertama di tempat baru membuat saya bergulang guling karena tidak bisa tidur, pasukan nyamuk menyerang dengan ganasnya, udara yang panas dan nyamuk yang banyak mengganggu waktu tidur kami.

keesokan harinya setelah bersiap merapikan diri untuk bekerja, dan Noval bersiap untuk pulang kemudian kami berjalan menuju luar gang, sebuah mobil menghampiri saya ( mobil pak is ) saya masuk di dalamnya dan Noval berbalik arah berjalan memunggungi saya, di saat itu lah saya menjadi seorang diri di kota orang yang bernama SURABAYA.